Karhutla Ganggu Mobilitas Udara di Kalimantan, 409 Penerbangan Terdampak Selama Sepekan

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai memberi dampak nyata terhadap mobilitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan. Dalam sepekan, ratusan penerbangan mengalami gangguan.

 

Tak hanya keterlambatan dan pembatalan, sejumlah penerbangan bahkan harus dialihkan karena kondisi operasional yang terdampak.

 

Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan mencatat 409 penerbangan terdampak selama periode 14-20 September 2026.

 

Angka tersebut melonjak dibandingkan periode sebelumnya, 7-13 September 2026, yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Artinya, hanya dalam satu pekan terjadi peningkatan sebanyak 250 penerbangan atau sekitar 157,2 persen.

 

Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan Ferdinan Nurdin mengatakan, data tersebut diperoleh berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait.

 

Dari total 409 penerbangan terdampak, sebanyak 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delayed), 254 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan (cancelled/postponed), sedangkan 14 penerbangan dialihkan (diverted).

 

Namun, bukan hanya jumlah penerbangan terdampak yang meningkat. Kondisi jarak pandang di sejumlah bandara juga mengalami penurunan. Jarak pandang terendah bahkan tercatat hanya 50 meter.

 

Kondisi tersebut terjadi di Bandara Tjilik Riwut, Iskandar, Haji Muhammad Sidik, dan A.P.T. Pranoto.

 

Angka itu lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencatat jarak pandang terendah 200 meter di Bandara Haji Muhammad Sidik.

 

“Selain peningkatan jumlah penerbangan terdampak, kondisi jarak pandang juga mengalami penurunan. Visibility terendah pada periode 14 s.d. 20 September 2026 tercatat mencapai 50 meter di Bandara Tjilik Riwut, Iskandar, Haji Muhammad Sidik, dan A.P.T. Pranoto,” ujar Ferdinan, Senin (21/9/2026).

 

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran operasional penerbangan. Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kalimantan Tengah menjadi daerah dengan jumlah penerbangan terdampak paling tinggi.

Sebanyak 201 penerbangan atau sekitar 49 persen dari total penerbangan terdampak tercatat di wilayah tersebut. Rinciannya terdiri atas 79 penerbangan delayed, 121 cancelled/postponed, dan satu diverted.

 

Jumlah itu meningkat dari 107 penerbangan pada periode sebelumnya atau naik sekitar 87,9 persen.

 

Bandara Tjilik Riwut menjadi salah satu bandara dengan jumlah dampak cukup besar. Tercatat 37 penerbangan delayed, 55 cancelled/postponed, dan satu diverted.

 

Jarak pandang di bandara tersebut berada pada kisaran 50 hingga 6.000 meter.Di Bandara Iskandar, tercatat 30 delayed dan empat cancelled/postponed dengan visibility 50 hingga 9.000 meter.

 

Sementara Bandara Haji Muhammad Sidik mencatat 36 cancelled/postponed dengan visibility 50 hingga 2.000 meter. Bandara H. Asan juga mencatat 10 delayed dan enam cancelled/postponed. Sedangkan Tumbang Samba dan Kuala Kurun masing-masing mencatat dua penerbangan cancelled/postponed.

 

Kuala Pembuang mencatat dua delayed dan empat cancelled/postponed, sedangkan Dirung mencatat 12 cancelled/postponed. Adapun Bandara Sanggu tidak mencatat penerbangan terdampak, meski visibility berada pada kisaran 100 hingga 200 meter.

 

Dampak karhutla terhadap penerbangan juga terlihat cukup tajam di Kalimantan Timur. Sebanyak 138 penerbangan terdampak selama periode 14-20 September 2026.

 

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencatat 22 penerbangan, terjadi peningkatan sebanyak 116 penerbangan atau sekitar 527,3 persen.Dari jumlah tersebut, 48 penerbangan mengalami delayed, 77 cancelled/postponed, dan 13 diverted.

 

Bandara SAMS Sepinggan mencatat 17 delayed, 18 cancelled/postponed, dan tujuh diverted dengan visibility 6.000 hingga 10.000 meter. Sementara Bandara A.P.T. Pranoto mencatat 24 delayed, tujuh cancelled/postponed, dan dua diverted.

 

Jarak pandang di bandara tersebut berada pada kisaran 50 hingga 10.000 meter. Bandara Kalimarau mencatat tujuh delayed, 25 cancelled/postponed, dan dua diverted.

 

Sedangkan Bandara Nusantara dan Maratua tidak mencatat penerbangan terdampak selama periode tersebut. Di Kalimantan Utara, sebanyak 70 penerbangan terdampak, terdiri atas 14 delayed dan 56 cancelled/postponed.

 

Jumlah tersebut meningkat dari 30 penerbangan pada periode sebelumnya atau naik sekitar 133,3 persen. Bandara Juwata mencatat 11 delayed dan 20 cancelled/postponed dengan visibility 1.500 hingga 10.000 meter.

 

Bandara Tanjung Harapan mencatat dua delayed dan enam cancelled/postponed. Sementara Long Apung mencatat satu delayed dan 18 cancelled/postponed.

Bandara R.A. Bessing mencatat 10 cancelled/postponed, sedangkan Long Bawan mencatat dua cancelled/postponed.Bandara Nunukan tidak mencatat penerbangan terdampak selama periode tersebut.

 

Meningkatnya jumlah penerbangan terdampak membuat pemantauan kondisi penerbangan terus dilakukan Otban Wilayah VII Balikpapan.

 

Ferdinan menegaskan, keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan tetap menjadi perhatian utama selama kondisi karhutla masih berlangsung. Koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan penerbangan juga terus diperkuat untuk merespons perubahan kondisi di lapangan.

 

Sementara bagi masyarakat yang penerbangannya terdampak, hak penumpang tetap diberikan oleh maskapai sesuai ketentuan yang berlaku. Hak tersebut antara lain berupa kompensasi, penjadwalan ulang penerbangan atau reschedule, maupun pengembalian biaya tiket secara penuh atau full refund.

 

“Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan akan terus melakukan evaluasi dan pemantauan secara berkelanjutan serta meningkatkan koordinasi dengan seluruh stakeholder guna memastikan aspek keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran operasional penerbangan tetap terjaga selama kondisi KARHUTLA masih berlangsung,” tutup Ferdinan. (sep/FN)